Backpacking ke Bali 1 : Serpihan Puzzle Get Lost to Bali

Backpacking ke Bali 1
Bertemu dengan traveler lain di Jogja

Backpacking ke Bali

Sobat Traveler, Tulisan perjalanan backpacking ke Bali ini merupakan kilas balik yang sedikit disesuaikan dengan 'tempo' dan update kekinian. Bukan semacam referensi yang detail, namun yang saya ingin bagikan adalah semangat berlibur yang memang perlu diperjuangkan.


Ada hal unik, membosankan, dan pelajaran. Namun apa pun yang Traveler alami di perjalanan merupakan hal yang WAJIB di tulis. Sesekali akan Kita buka sebagai pengingat masa lalu (sejarah adalah guru yang baik), karena kenangan itu tak hanya tersirat namun lebih baik jika ia tertulis.

Perjalanan Backpacking ke Bali kali itu (2011) sudah untuk yang kedua kali (edisi pura-pura backpacker). Sebelumnya ke Bali pada tahun 2006 dalam agenda Field Trip kampus. Namanya juga rombongan field trip, berada dalam satu bus selalu bersama kemana-mana, tentulah tidak boleh semaunya, sudah ada itinerary yang harus diikuti.

Berbahagialah para backpacker di dunia, liburan tanpa itinerary alias get lost ternyata akan mengarahkan kita ke sisi lain yang lebih dalam dibandingkan mengikuti itinerary yang mengikat.

Tapi bagaimana pun tiap orang punya cara travelingnya masing-masing. Dan tiap-tiap cara berlibur ini punya keasyikan dan keseruan tersendiri. Ada yang hanya keluar dari hotel sesekali ke tempat destinasi wisata dan lebih banyak tidur, atau lebih banyak menikmati suasana hotel dengan view di sekitarnya. Juga sebaliknya, ada yang di hotel hanya untuk tidur dan lebih menyukai aktifitas di luar.
Menurut hipotesis saya, perjalanan liburan menggunakan pesawat tidak begitu banyak yang diingat (kecuali tidak ada opsi jalur darat). Perjalanan singkat udara, yang terlihat hanya awan, dan ... tahu-tahu sudah sampai. Sepertinya jalur darat ini hanya disukai anak-anak muda penyuka adventure traveling ya?

Catatan di bawah ini sekilas mengungkapkan hal nyeleneh gaya backpacker yang tidak berduit alias nekad. Tentu banyak perbedaan bagi backpacker di jaman sekarang. Apalagi, di media-media sosial sudah banyak panduan apa dan bagaimana cara traveling ala backpacker.

Namun demikian, menjadi backpacker bukan berarti mereka tidak berduit. Saat ini banyak orang kaya memilih cara berlibur gaya backpacker, karena traveling cara get lost akan menuntun mereka terhadap pemahaman yang dalam pada daerah yang mereka kunjungi.

Cerita perjalanan di bawah ini mengabarkan bagaimana romantisme Backpacking ke Bali 2011 melalui perjalanan darat yang sarat dengan kenangan.

Bandung 2011 Ajakan Backpacking ke Bali

Itu hari Kamis, Bulan Juni 2011. Siang itu saya masih nangkring di rumah kawan di Kiaracondong, Bandung. SMS Bani muncul, kaget juga, karena isinya ujuk-ujuk ajakan ke Bali. Kaget karena apa?... What a pitty! tidak ada sepeser pun duit di kantong, but always Yes!

Rapat bin rapat, Bani siap backup, urusan pergantian belakangan. Esoknya berangkatlah kita ke Stasiun Kereta Api Kiaracondong, start sore hari, waktu itu jadwal kereta sekitar pukul 18.00 WIB. Oh ya, kita berangkat bertiga, saya sendiri, Bani dan Yopi alias Kakik.

Backpacking ke Bali 1
Bani, biang kerok dari perjalanan ini. 
Pasang pose dulu di VREDEBURG

Pilihan anak mahasiswa tentu saja kelas ekonomi, urusan berapa lama perjalanan tidak masuk hitungan. yang penting meriah dan murah.

Senang sekali berada di kereta ekonomi. Tidak ada kata-kata level atau strata manusia di gerbong ini. Semua penumpang masuk dan 'menyatu' dalam aroma sama, pakaian apa adanya. Namun hal yang paling penting adalah komunikasi yang riuh. Tidak ada istilah kesendirian dan kesombongan di kelas ini, sebagaimana yang kita rasakan di kelas bisnis dan eksekutif, sebuah perjalanan yang (ada kemungkinan) tidak saling sapa dengan tetangga sebelah.

Backpacking ke Bali 1
Sang Pengagum Jenderal Sudirman,
Ketemu Juga Akhirnya

Penggalan 'Backpacker Kampungan' Transit di Jogja

Kita tiba keesokan harinya di Stasiun Kereta Api Lempuyangan pagi hari itu dan Jogja masih pulas saja. Sebagaimana tahu Jogja di Kota Pelajar itu angkutan kota hanya beroperasi pada jam-jam tertentu, tidak untuk malam hingga pagi hari. Dan Traveler kampungan seperti kita tak ada referensi harus menggunakaan transportasi ke mana.
Harap dimaklumi, karena selain get lost, jaman itu berbeda dengan jamnan sekarang yang sudah ada grab. Lagi pula handphone kita memang nggak canggih-canggih amat, apalagi untuk membuka google map, oalah...

Backpacking ke Bali 1
Jauh-jauh dari Bandung, Kakik ketemu si Eis di Jogja

Hasil dari tanya-tanya, akhirnya Kita putuskan jalan kaki menuju jalur yang dilewati Jogja Trans. Kemudian kita menuju ke Malioboro untuk sekedar 'jalan-jalan' sembari menunggu kereta berikutnya dari Stasiun Tugu Jogja ke Surabaya.
Orang kampung dari paling ujung di Sumatera, Belitung, lalu melanglangbuana melintasi Jawa yang kekotaan, tetap saja ngampung. Kata Andrea Hirata; tak bisa dibasuh-basuh.

Backpacking ke Bali 1
Minta do'anya Mbah, Kita mau traveling

Selalu senang menjajaki apa yang ada di Malioboro. dari mulai menggerayangi patung-patung kas masyarakat Jogja, di Batik Mirota, pura-pura nanya harga, hingga membuntuti cewek cantik ke Benteng Vredeburg (niat traveling nggak sih?!).

Jogja - Surabaya dan Surga 50 x 50 cm

Kereta api ekonomi yang singgah di Jogja adalah pemberhentian untuk kesekian kalinya. Artinya, kereta api sudah penuh. Hanya Tuhan dan orang-orang yang pada waktu itu berpadat ria tahu bagaimana keseruannya.

Belakangan baru disadari, ternyata 'romantisme' traveling justru dari 'perjuangan' dan tantangan itu sendiri.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana mencari 'surga' 50 x 50 sentimeter, sekedar untuk duduk dan tidur (dengan duduk dan bersadar di tas).

Backpacking ke Bali 1
di Munumen sura & baya

Masih tercium bagaimana aroma toilet kereta api kelas ekonomi (please jangan dibayangkan), nah kita bertiga tidur di sebelahnya. Sempit, sesak, lalu-lalang pedagang dan riuhnya, dan aroma romantis itu tidak akan mudah dilupakan dari alam sadar, sampai sekarang 'indah sekali'.

Surabaya - Banyuwangi : Jangan Jadi Ayam Jago!

Tidak banyak yang dilakukan di Surabaya. Sama seperti saat di Jogja, di Surabaya hanyalah sekedar transit. Kedatangan di Stasiun Pasar Turi Surabaya sekitar pukul 22.00 WIB. 

Sebetulnya ada kereta api dari Stasiun Pasar Turi menuju Pelabuhan Ketapang, namun keberangkatannya baru besok hari. Kita tak bisa menunggu, tak mau menginap, tak ada budget untuk itu, hi hi...

Lagi-lagi Kita galau dengan pilihan transportasi. Tujuan selanjutnya memang ke terminal di Surabaya yang akan mengangkut kami ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi yang kemudian menyeberang ke Gilimanuk, Bali.

Kami menyempatkan mengambil dokumentasi di Monumen Sura & Baya (Hiu dan Buaya). Ini penting agar diakui pernah ke Surabaya. Selanjutnya kami ke terminal Surabaya yang terkenal 'angker'. Untungnya baru diketahui kemudian, namun 'Jiwa Sumatera' tidak pernah keder dengan situasi ini (gaya dikit). 

Sempat juga dibohongi oleh oknum calo yang mengatakan sebuah bis akan berangkat paling cepat. Masuklah kita bertiga. Namun setelah komunikasi dengan penghuni di dalamnya, ternyata masih harus lama menunggu. 

Keluarnya kita dari bus justru menjadi hal lain bagi 'oknum calo' ini. Tidak boleh keluar alias harus tetap dengan pilihan. Dilawan dong, dan bersikeras akan mencari opsi lain. Ada pertengkaran kecil yang kemudian kita tinggalkan, bahkan Bani sempat menendang badan bis yang membuat sang sopir dongkol.
Usut punya usut, ternyata di belakang baju sopir menyimpan celurit. Beruntung sopir taksi yang berada di dekat segera mengamankan dan menyarankan untuk menjauh. Kita lalu memilih beristirahat di halaman depan terminal.

Berangkat ke Gilimanuk + Tikel Murah yang Ilegal

Usai rehat sejenak Kita kembali lagi ke area bis. Tanya dan tanya kami tamukan bis langsung ke Pelabuhan Ketapang dan berangkat!

Backpacking ke Bali 1
di kapal penyeberangan ke Gilimanuk, 
Kakik dan Bani (dari kiri ke kanan)

Beda dulu beda sekarang. Di tahun 2011, setahu saya ada dua jalur keberangkatan dari Pelabuhan Ketapang ke Pelabuhan Gilimanuk. Istilahnya jalur resmi dan tidak resmi. Melalui jalur resmi tentu saja berurusan dengan budget dan waktu keberangkatan yang sudah ditetapkan. Opsi lain, yaitu jalur tidak resmi memiliki banyak jam keberangkatan dan hemat, hanya Rp.20.000,-/orang.
Jalur rock and roll ini dari pelabuhan rakyat yang tidak jelas bentuknya, namun tetaplah kita berangkat yang panting sampai.

Galau Tingkat Dewa di Negeri Para Dewa

Pelabuhan Gilimanuk Bali serasa awal bagi perjalanan kita. Namun halangan yang justru bikin dagdigdug adalah pintu masuk menuju Bali. Pastinya kawan Traveler tahu, setelah kejadian yang menghebohkan di wilayah Legian dulu berdampak kemudian. Akan selalu ada pemeriksaan KTP setiap masuk ke Bali.

Dan saya memeriksa dompet, yak tidak ada KTP di situ. Galau! Saya sampaikan ke kawan-kawan, biarlah saya balik ke Bandung tanpa melanjutkan perjalanan atau menunggu saja di Banyuwangi. Ini keputusan yang paling sulit selama perjalanan. Tak pernah terperkirakan.

Dengan harap-harap cemas, saya kembali dan terus memeriksa isi dompet yang minus recehan itu. Yang saya temukan hanyalah foto copy KTP. Apakah ini akan membantu dan meloloskan saya masuk bersama kedua kawan lainnya?

Opsi lain adalah tawaran calo pelabuhan menggunakan sepeda motor, lewat jalur memutar dan dengan membayar. Tidak tahu berapa bayaran, namun dikirakan lumayan besar untuk nilai uang di masa itu. Perkiraan sekitar 50 sampai 100 ribu, tak ada buget untuk itu.
"Maaf Pak, hanya bawa fotocopy-an?" diperiksa sejenak lalu dikembalikan, dan lolos. Secepat itu? God Thanks! dan akhirnya sampailah kami ke Bali dan mengubah waktu WIB ke WITA, satu jam ke depan.

Komitmen Tidak Memilih Penginapan

Tak ada cerita bagi perjalanan di bis. singkatnya kami sampai di salah satu terminal Kota Denpasar. Lagi-lagi kami berada di terminal pada malam hari. Sebagaimana komitmen, tak ada budget untuk penginapan. Tidur bisa dimana saja, bahkan di sebelah toilet sejali pun, hehe..

Berjalanlah kita bertiga keliling kampung seperti orang ronda. Rencananya memang mau mencari masjid. Sulit memang mencari masjid di Negeri Dewata, sekali ditemukan pun Kita melihat rombongan Tablig, Kita pun urung.

Kembali ke Terminal dan melongo di sebelah pos Polisi di Simpang Empat dan menginaplah...!?
Bersambung... Get Lost to Bali - 2

0 Response to "Backpacking ke Bali 1 : Serpihan Puzzle Get Lost to Bali"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel