Backpacking ke Bali 2 : Serpihan Puzzle Get Lost to Bali

Backpacking ke Bali 2

#Get Lost in Bali
Jika Traveler Backpacking ke Bali menggunakan pesawat terbang, akan berbeda ceritanya saat Traveler get lost to Bali dengan kereta ekonomi. berjam-jam di kereta, bercengkrama dengan para tetangga sekursi atau memilih nangkring di warung kopi kereta (Opsi Pengopi).

Jadi ingat satu hal, suasana riuh malam itu sempat diramaikan teman seperjalanan, yaitu Yopi alias Kakik. Brilian sekali Kakik, kepada penumpang yang santai di gerbong ia mengajukan teka-teki, akhirnya ramailah suasana gerbong, semua menjawab dan riuh bersahabat.

Hal nan romantis lainnya tentu saja saat berdesakan di dalam kereka ekonomi dan Traveler akan menempuh perjalanan berjam-jam, hanya Tuhan yang tahu kepedihan sekaligus kebahagiaan saat itu (Baca: Get Lost to Bali - 1), dari Bandung menuju Yogyakarta, lanjut ke Surabaya, hingga menyeberang dari Pelabuhan Ketapang ke Gilimanuk, Bali.

Mengawali perjalanan di Bali dengan bis dari pelabuhan Gilimanuk menuju Terminal Ubung di Denpasar Bali. tak ada hal yang bisa diceritakan saat di bis, hanya kelelahan yang menyengat dan bis teruslah membawa hingga ke Denpasar.

Pasal 1 Tak Ada Budget Untuk Menginap!

Sore dan menjelang malam, sempat mengisi perut dengan konsekuensi tidak memilih lauk yang mewah di sebuah warung makan padang, tidak jauh dari terminal.

Sehabis makan yang ada hanyalah rasa kantuk, dan kembali ke pasal 1. Kita sempat berkeliling jauh, tentunya Traveler paham, akan sulit menemukan masjid di Pulau Dewata ini. Saat ditemukan pun, tampak dari jalan, ramai rombongan Jamaah Tablig yang juga menginap, Kita pun urung.

Jadilah malam itu kembali ke perempatan Terminal Ubung dan beristirahat sebentar. tak ada ide atau upaya apa yang harus dilakukan. Gagasan yang muncul justru menginap di Pos Polisi dengan konsekuensi siap-siap diusir kapan pun.

Ruangan yang sempit tak membuat nyenyak, bagaimana pun nikmat ini perlu disyukuri. Lalu keesokan paginya benarlah yang terjadi di ujung pagi, kaki saya seperti dipegangkuat-kuat, tak mampu bergerak dan seolah dicengkram raksasa dan saya pun meronta. Dalam kondisi setengah sadar, terlihat seorang pria berbadan besar, gendut, hitam, tanpa jenggot dan berkumis tebal melotot. Mendengar saya teriak kaget, Kakik yang eksentrik pun terkesiap bangun seketika memberi hormat. 

Pak Polisi yang terlihat seram ini langsung tertawa melihat ulah Kakik dan tiba-tiba saja suasana lambat laun menjadi cair. Selanjutnya Polisi yang baik itu pun berbincang-bincang, seraya memberi saran-saran demi keselamatan dalam perjalanan.


Pagi di Bali aroma khasnya mulai terasa. Di belahan mana pun di Bali, masyarakatnya mulai bersembahyang, Dan dupa/hio (harum) yang digunakan untuk sembahyang itu biasanya diletakan di depan rumah, atau di tempat-tempat yang mereka inginkan. Di angkot yang Kita naiki juga terdapat hio harum ini, senang sekali menemukan aroma khas ini, menandakan Kita sedang berada di Bali. 

Tanpa mandi, gosok gigi, dan muka sembab, Kita memilih perjalanan pertama hari itu ke daerah Batu Bulan. Entah apa yang akan dilakukan dan dilihat di sana, namun perjalanan pertama ke Bali (Filed Trip Kampus 2006) lalu, ada tempat performing art seperti tari kecak dan Barong. Perjalanan ini tidak memakan waktu lama, angkot pun berhenti persis di depan gedung yang ingin kita tuju. 

Pertunjukan kesenian ini tentu terjadwal dan masuk dalam itinerary paket wisata. Tak ada pertunjukan pada jam-jam saat Kita datang. Tak ada pertunjukan semau kita ada.

Lalu apa? di mana mandi? Kita malah mencari souvenir. Di seberang jalan gedung pertunjukan ini terdapat galeri. Sementara aku dan Kakik 'menonton' apa yang ada di galeri, Bani meluncur ke belakang, mencari kamar mandi, lalu Kita pun bergantian, satu-satu.

Menuju 'Jiwa Bali' Desa Ubud

Ke Ubud, ujar saya saat itu kepada Bani dan Kakik. Ubud yang Kita pahami adalah 'Jiwa Bali'. Di sini semua Seniman terkenal berkumpul, berkarya dan mempresentasikan karyanya. Tak heran acapkali festival berskala internasional diselenggarakan di Ubud.

Salah satu Pelukis Internasional yang memiliki museum di Ubud Bali adalah Don Antonio Blanco. Pria kelahiran Manila Filipina ini datang ke Bali pada tahun 1952. Ia kemudian menikahi seorang Penari Bali bernama Ni Ronji. Kekhasan melukis Blanco menitikberatkan pada unsur feminisme perempuan Bali yang digambarkannya dengan gaya dreamy, feminisme dan romantis.

Backpacking ke Bali 2

Ada pun 5 (lima) Pelukis Internasional lainnya yang membuat Bali menjadi terkenal ialah Miguel Covarrubias, Walter Spies, Rudolf Bonnet, Adrien Jean Le Mayeur, dan Arie Wilhemus Smit. 

Di Ubud juga terdapat hutan yang dihuni oleh banyak monyet. Letaknya sekitar 1 (satu) kilimeter dari Pusat Desa Ubud. Destinasi ini dikenal dengan nama Hutan Monkey Ubud (Ubud Monkey Forest). Daerah ini memiliki luas sekitar 8 (delapan) hektar yang di tengahnya terdapat pura.

Kita berkeliling di Ubud sampai sore hari dan tidak menyadari (atau memang cuek) akan menginap di mana malam itu.

Di jelang petang, Kita memutuskan untuk pergi tanpa tujuan. Angkot yang ditumpangi hanya mengantar ke persimpangan Karangasem yang katanya menuju Denpasar. Seberapa jauh denpasar? Tidak tahu. Jadilah malam itu Kita berjalan lumayan jauh, entah kemana, tanpa tujuan sembari mengarahkan jempol ke setiap mobil yang lewat, tidak satu pun yang berhenti. Tentu Traveler ingat penggalan adegan yang sama dalam film My Name is Khan, begutulah gambarannya.

Awal dari Keunikan Bali, Hanya Didapat oleh Backpacker

Sampai malam itu Kita melewati rombongan panjang perempuan Bali membawa sesajen diletakkan di atas kepala. Dekat dari Kita, para perempuan ini lalu berbelok ke persimpangan jalan, menuju sebuah rumah. Serta merta pula sebuah mobil lewat ingin berbelok ke persimpangan menuju rumah. Persis menuju rumah yang sedang menggelar kegiatan adat tersebut.

Ada signal, seseorang dari dalam mobil tersebut seperti mengiyakan 'jempol' Kita. Apakah dia malaikat apa yang bisa membantu malam itu. Kita berupaya mendekati sang Sopir, dan pemilik mobil nampaknya menghadiri kegiatan adat. 

"Sebentar, tunggu Bapak dulu, nanti kalian bisa ikut," kata Sopir. Setelah ini, besok, dan selanjutnya adalah keunikan di Bali, juga keseruan lainnya. Sekelumit puzzle yang hanya dialami oleh para Backpacker, tidak untuk wisatawan yang manut terhadap itinerary yang terkutuk.

Bersambung... Get Lost to Bali - 3

0 Response to "Backpacking ke Bali 2 : Serpihan Puzzle Get Lost to Bali"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel