Backpacking ke Bali 3: Serpihan Puzzle Get Lost to Bali

Backpacking ke Bali 3

#Get Lost in Bali - 3

Perjalanan Backpacking ke Bali dengan suka-duka di kereta api ekonomi merupakan hal yang 'menyenangkan' (Baca : Get Lost to Bali) sekaligus rumit. Namun sadarilah Kawan, ternyata kesulitan itu lebih nyaman diceritakan daripada kemewahan dan kebahagiaan itu.

Entahlah bagaimana cara Traveler jaman kekinian, mungkin lebih mudah dan nyaman. Apalagi zaman sekarang semua bisa diakses, semua sudah ada dalam genggaman, tidak perlu mengantri. Bahkan, tidak perlu ada uang di dompet, sudah nyaman dengan adanya kartu debit dan kredit.

Saat wisatawan berlibur dan bersenang-senang ke Bali, bermewah-mewah dengan fasilitas yang ada, Kita justru mencari emperan gratis dan makan ngirit. Sekali lagi, kesulitan itu pun kini menjadi 'kemewahan' yang tidak ternilai. Ujung-ujungnya, hal-hal menggelitik justru menjadi perkara unik saat diceritakan.

Selama di perjalanan ke dan tiba di Bali, hingga hari pertama memulai 'Darmawisata', Kita masih berkutat pada urusan akan mandi di mana dan makan apa. Lalu malamnya belum terpikir untuk tidur gratis di mana (Baca : Get Lost in Bali - 2), menuju ke mana dan naik kendaraan apa, hiks.

Di tahun 2011 sudah ada handphone canggih, namun untuk level Kita belum mampu menggantikan uang jutaan dengan teknologi yang hebat itu. tentu saja HP canggih di tahun itu sudah bekerjasama dengan Google Map yang bisa membantu Traveler agar tidak tersesat. 

Saya teringat bagaimana pasangan Traveler Indonesia: Dua Ransel yang sudah Go Internasional, yaitu Ryan & Dina yang membagi-bagikan rumah serta isinya, lalu memutuskan menjadi Permanent Traveler dan hidup nomaden. Tak terbayang mereka akan tidur di mana, dan makan apa di sepanjang perjalanan melanglangbuana ke puluhan negara belahan dunia.

Seperti malam kedua di Bali. Selepas jalan-jalan menikmati kekayaan budaya dan panorama Ubud, angkot yang Kita tumpangi hanya menyinggahkan Kita di sebuah persimpangan, daerah Karangasem. Dalam kebingunan akan menuju ke mana, dengan 'modal jempol', tidak peduli kendaraan apa yang akan membawa kita.

Sampai akhirnya bertemu serombongan perempuan Bali berparas cantik membawa sesajen menuju sebuah rumah. Lalu ada mobil yang berhenti dan sempat membuat Kita hampir percaya diri ternyata benar-benar membuat percaya diri. Saat kita datangi, Sang Sopir mengatakan bahwa dirinya mengantar pemilik untuk memenuhi undangan upacara adat. Ada kemungkinan Kita akan diajak, dan lebih baik jika Kita komunikasi lebih lanjut dengan si pemilik.

Setelah menunggu, Bapak yang dimaksud kembali dan Kita pun ngobrol singkat. Deal! naiklah ke mobil mewah itu. Dalam perjalanan di mobil, hal-hal di luar perkiraan justru muncul. Kita ditanya dari mana? dijawab Bandung. Ternyata Pak Nyoman Sidarta, pemilik mobil, merupakan Alumni Bandung dan menimba ilmu di STHB (Sekolah Tinggi Hukum Bandung). Obrolan Kita mulai nyambung hingga diajaklah menginap di rumah beliau malam itu. Pasal 1 terselamatkan.

Ngariung dan Arak Bali

Kediaman Pak Nyoman merupakan rumah ideal masyarakat Bali. Kata ideal ada kaitannya dengan idealis, struktur atau pun kerangka idealis ini umumnya bersifat perfect. Tak ada idealis yang not perfect. 

Seperti Pura saja, ada tempat sembahyang, ruang pertemuan, toilet, dapur, ruang keluarga, semuanya terpisah. Sekedar hipotesis bagi saya saja, ada kecenderungan manusia membuat rumah seperti tempat peribadatan agama mereka.

Backpacking ke Bali 3

Sebagai Tokoh Masyarakat, oh ya Pak Nyoman merupakan Anggota DPRD Provinsi Bali. Beruntung sekali Kita bertemu dengan beliau. Hampir tiap malam, beberapa anggota masyarakat sering berkumpul di rumahnya; Berbicara apa saja, membahas apa saja, dan malam itu pun Kita ikut ngariung, menjadi bagian masyarakat Bali, duduk di antara mereka.

Barangkali sudah menjadi tradisi. Saat ngariung, membentuk formasi melingkar dan berbicara satu sama lain, sajian yang disuguhkan adalah minuman Arak Bali. Minuman ini terus diover memutar, diminum, dan pembicaraan terus berlanjut. Kata Pak Nyoman, jenis arak yang di minum ini benar-benar asli.

Malam itu pun Kita tidur di pelataran rumah Pak Nyoman, namun diberi kelengkapan selimut dan bantal. Tidur di pelataran/teras ini tentu dengan beberapa pertimbangan, Kita tidak tahu, mungkin ada hal-hal privasi bagi masyarakat Hindu, atau hal-hal yang membuat Kita dan Tuan Rumah tidak nyaman. Namun perbedaan agama tidak membuat harmonisasi di antara kita tidak baik, justru sebaliknya.

Dan malam itu Kita benar-benar pulas, tak ada raksasa pengganggu, damai...

Mandi Telanjang?

Pagi yang menyegarkan itu datang juga. Kita kemudian diajak oleh Pak Nyoman mandi di sungai panjang yang terdapat pemandian, semacam  kran yang disusun berjejer di atas kepala. Lokasinya seperti masuk ke area pedesaan dan alam yang alami.

Di area pemandian khusus laki-laki ini terdapat pure di atas sana. tepat di samping pemandian, dibangun jembatan untuk melintas ke pura. 

Saat Kita datang ke area tersebut, sudah banyak warga yang mandi, semuanya laki-laki bertelanjang bulat. Dari anak-anak hingga usia tua. Pak Nyoman yang mengajak Kita mandi nampaknya tidak membuka semua pakaiannya, ia menyisakan celana shot pendek.

Antara saya, Bani dan Kaki pun berpikir dua kali untuk membuka semua pakaian. Saat mandi, Kita memilih menyisakan celana dalam, tak sepenuhnya telanjang.

Yang mengherankan justru, nampak beberapa ibu-ibu membawa sesajen ke Pura, lalu-lalang dan cuek. Lelaki yang sedang mandi pun cuek. Inilah budaya Bali, tradisi lama yang entah kini masih berlangsung atau tidak. Yang pasti, jika sudah menjadi tradisi, tentu tidak gampang dihilangkan, apalagi di dalamnya menyimpan unsur-unsur filosofi kehidupan.

Selama perjalan pergi mandi dan pulang kembali ke rumah, Pak Nyoman terus bercerita tentang perkembangan wisata di daerahnya. Mungkin karena sudah mengakar, maka perkembangan wisata sudah menjadi kebutuhan. Banyak fasilitas-fasilitas pendukung pariwisata yang dibangun oleh masyarakat sendiri.

Masyarakat Bali kini lebih menyukai mengajak wisatawan mancanegara berkunjung ke desa mereka. Menyelami adat istiadat dan menyatu dengan masyarakat. Pengalaman kemewahan dalam berwisata tentu sudah tidak asing bagi tamu-tamu manca negara. Tapi menyelami adat-istiadat adalah bentuk penghargaan lain.

Pertemuan di DPRD Provinsi Bali

Hari itu merupakan hari kerja. Berangkatnya Pak Nyoman dari rumahnya ke Kantor DPRD Provinsi Bali juga keberangkatan Kita bersama Beliau. Tidak lupa juga diberi bekal minuman asli Bali yang membuat kepala geleng-geleng itu.

Pagi itu setelah mengantar Pak Nyoman di depan Kantor DPRD, Rencananya Kita akan diantar ke Pantai Sanur, untuk selanjutnya menuju Pantai Kute. Namun, beberapa meter keluar dari kantor, Sopir langsung mandapat telpon, rupanya dari pak Nyoman. Akhirnya Kita kembali ke gedung depan kantor. 

Menurut info dari Sopir, ada beberapa orang yang ingin ditemukan dengan Kita pagi itu, dan kebetulan sedang dalam perjalanan dinas ke Bali.

Bersambung... Get Lost in Bali 4

0 Response to "Backpacking ke Bali 3: Serpihan Puzzle Get Lost to Bali"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel