Backpacking ke Bali 4: Serpihan Puzzle Get Lost to Bali

Backpacking ke Bali 4

Backpacking ke Bali 4

Jika Kawan Traveler ingin melihat bagaimana karakter dasar seseorang, ajaklah dia melakukan perjalanan. Kalau perlu backpacking, traveling apa adanya. Apakah dia tipe pengeluh, malas, atau penuh keceriaan dan sabar. Sebetulnya ada banyak cara melihat apa dan bagaimana karakter orang yang kenal dekat dengan kita, namun salah satu caranya, ya traveling.

Saya sebetulnya tipikal manusia yang santai dan seperempat serius, namun beruntunglah, saat traveling ke Bali beberapa tahun lalu, saya ditemani dua sahabat; Bani dan Kakik yang selalu ceria dan sabar. 

Cerita ini merupakan sekuel ke empat dari cerita-cerita pendek sebelumnya. Oh ya Traveler, cerita ini merupakan kilas balik dan mungkin akan disingkronkan dengan sedikit kutipan kekinian. Catatan ini juga bukan menjadi referensi bagi para Backpacker, cukuplah sebagai pembanding (jika memang pantas dibandingkan), utamanya dari segi masa.

#Get Lost in Bali - 4

Backpacking ke Bali dimulai dari Bandung, Jogja, hingga Surabaya yang memerlukan waktu dua hari. Berpindah dari kereta ekonomi satu ke kereta ekonomi lainnya, begitu pula dengan bis (Baca : Get Lost to Bali - 1). Kemudian Kita lanjut penyeberangan dari Ketapang dan sampai ke Denpasar hingga bermalam di tempat yang tidak Kita perkirakan sebelumnya, namun sesuai dengan Pasal 1, Tak ada budget untuk penginapan  alias gratis (Baca  : Get Lost to Bali - 2).

Pada hari pertama di Bali, Kita sempat mengunjungi daerah Batu Bulan. Sesuai rencana ingin melihat pertunjukan yang ternyata di luar jadwal. Berlanjut menuju Ubud dan menyaksikan ragam presentasi Budaya Bali, termasuk Tarian Kecak hingga bersantai di Ubud Monkey Forest.

Malam kedua di Bali serba Unpredictable dan sedikit tantangan. Kita berjalan saja tanpa tujuan untuk mencari tempat yang layak dan gratis. Ini adalah traveling nekad atau sebagaimana yang disebut Trinity dalam bukunya berjudul Naked Traveler. Pastinya Trinity tidak sekonyol Kita yang tidak memiliki schedule jelas saat traveling. Adapun kejadian unik lainnya yaitu melakukan perjalanan yang 'the truly naked' hingga ikutan Mandi Telanjang di alam terbuka bersama warga Bali (Baca : Get Lost in Bali - 3).

Pertemuan di DPRD Provinsi Bali

Sebagaimana lanjutan dari hari pertama di Bali, yakni keesokannya di hari kedua yang merupakan hari kerja. Berangkatnya Pak Nyoman dari rumahnya ke Kantor DPRD Provinsi Bali juga keberangkatan Kita bersama Beliau. Dibekali pula Kita dengan minuman asli Bali yang membuat kepala geleng-geleng itu.

Pagi itu setelah mengantar Pak Nyoman di depan Kantor DPRD, Rencananya Kita hanya akan diantar ke Pantai Sanur, untuk selanjutnya melakukan perjalanan sendiri menuju Pantai Kuta. Namun, beberapa meter keluar dari kantor, Sopir langsung mandapat telpon, rupanya dari pak Nyoman. Akhirnya Kita kembali ke gedung depan kantor. 

Info sekilas dari Sopir, ada beberapa orang yang ingin ditemukan dengan Kita pagi itu, dan kebetulan mereka sedang dalam perjalanan dinas ke Bali.

Lagi-lagi momentum pertemuan memang terjadi tak disangka-sangka. Pada saat bersamaan, rupanya beberapa orang Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung sedang melakukan kunjungan kerja ke Bali.

Backpacking ke Bali 4


Beberapa obrolan singkat sempat kita lakukan waktu itu dan saya sempat mengambil dokumentasi tersebut. Pak Siswanto atau yang akrab disapa Yungyung merupakan Anggota DPRD Provinsi Babel asal Belitung Timur. Sebelum Kita beranjak, Pak Yungyung sempat menyisipkan sesuatu di kantong Bani, ehem...lumayanlah buat tambahan bekal perjalanan. 

Pada Pak Yungyung, Kita sempat menjanjikan untuk membuat catatan traveling ke Bali, namun hingga kini janji tersebut belum pernah dituntaskan. Mudah-mudahan tulisan kecil ini bisa menjadi bayaran atas janji yang pernah kita utarakan waktu itu.

Oleh sopir Pak Nyoman, Kita diantar ke area sekitar Pantai Sanur. Di dekat pantai ini juga terdapat Monumen Perjuangan Rakyat Bali - Lapangan Niti Mandala Renon - Monumen Bajra Sandhi. Area ini sangat luas, bisa jadi masuk dalam 5 lapangan (di tengah kota) terluas di Indonesia.


Backpacking ke Bali 4

Joger & Sunset Kuta

Di sekitar Monumen Braja terdapat berbagai pameran dan pertunjukan. Usai berkeliling melihat pameran dan menyempatkan diri berfoto di papan nama depan Pantai Sanur (foto aja sich), Kita putuskan untuk mencari angkot menuju Kuta.

Dari Sanur ke Kuta memang tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 12 Kilometer yang jika ditempuh dengan kendaraan roda empat tidak lebih dari 20 menit (tanpa macet). Saat itu penumpang di angkot hanya Kita bertiga. Pak sopir meminta bayaran sistem carter, jauh dekat Rp.30.000,-

Sebagai kenang-kenangan, sopir sempat memberikan cenderamata, sebuah patung siwa. Menurut kepercayaan Agama Hindu, siwa merupakan salah satu dari tiga dewa utama (trimurti). Dua dewa lainnya adalah brahma dan wisnu. Siwa sendiri merupakan dewa pelebur, yaitu melebur sesuatu yang sudah usang, kemudian dikembalikan ke tempat aslinya.  


Di Kuta, Kita sempat mengunjungi Joger, salah satu brand kaos yang paling terkenal di Indonesia, khususnya di Bali. Saking ramainya pengunjung di Joger, tak jarang kita melihat antiran panjang dua sampai tiga baris. Secara pribadi, baru kali ini melihat antian masuk ke distro laiknya antrian mengambil minyak tanah atau gas elpiji.

Kita bertiga sempat masuk ke joger. Bani dan Kakik membeli sesuatu, sementara saya tidak menemukan pilihan yang cocok. Dari joger Kita berjalan saja ke Pantai Kuta. Pantai ini menjadi salah satu daya tarik wisata di Bali, daya tarik itu karena sunsetnya juara.

Ramai sekali di Pantai Kuta Bali, wisatawan menyemut di sepanjang pantai. Pedagang tato hilir mudik menawarkan dagangannya. Kita pun mengambil moment ini, sebuah tato temporer, sembari menunggu munculnya sunset.

Tak perlu menunggu lama ketika matahari pulang ke peraduannya. Jingga di sore itu terlukis jelas dari langit Bali, menyembur ke laut, cantik sekali. Mendekati horizon, wisatawan mulai sibuk mengambil the best moment, mengabadikan diri dalam siluet-siluet.

Backpacking ke Bali 4

Sunset di Pantai Kuta memiliki keindahan tak terperi. Bagi saya, ada dua sunset point di Indonesia yang memiliki keindahan seperti ini. Pertama di Pantai Tanjungpendam Belitung, kemudian kedua di Pantai Kuta, Bali.

Setelah sunset sore itu berakhir, kita bertiga masih di Pantai Kuta dan berkomitmen hingga besok tetap di pantai Kuta. Di sekeliling masih ramai saja wisatawan mancanegara mau pun domestik yang hilir mudik di pantai. Saya masih terus saja menikmati arak pemberian Pak Nyoman, sembari merayapi malam yang kian pekat. Akan ada gerhana malam itu.

Laura Jouf

Saya sedikit mabuk saat Bani dan Kakik keliling pantai dan saya memutuskan untuk tetap stay sebentar. Beberapa waktu berselang, ternyata Kakik dan Bani tak segera kembali yang membuat saya menyusul, mencari mereka yang entah berada di sebelah mana.

Oalah, pantaslah. Seorang wanita bule berparas cantik asal Perancis berada di tengah-tengah pria kampung ini. Wanita ini bernama Laura, ya Laura Jouf. Laura ke Bali bersama orangtuanya. Dia merupakan Arsitektur, ayahnya juga Arsitektur dan sedang mengerjakan sesuatu di Bali, sekitar Kuta.

Backpacking ke Bali 4

Laura sendiri malam itu sebelum Kakik dan Bani menemani. Dia di Pantai Kuta untuk menunggu munculnya gerhana. Saya pun ikut nimbrung dengan ketiganya.

Banyak obrolan yang terungkap di malam itu sampai tiba-tiba Bani mengatakan dirinya sedang berulang tahun. Antara percaya atau tidak. yang jelas dengan sigap Laura mengatakan bahwa ia harus beli Bir. Mungkin inilah cara dan budaya mereka menghargai seseorang di hari spesialnya.

Jadilah Kita party kecil di pantai itu, merayakan ulang tahun Bani yang muncul secara tiba-tiba. Apa pun itu, justru menjadi sebuah keseruan antara kita bertiga bersama Laura.

Backpacking ke Bali 4


Menjelang tengah malam pesta berakhir dan Laura memutuskan kembali ke penginapan. Bani bercerita bahwa ia sempat 'keluar' malam itu, dan saya tetap berada di pesisir, mabuk berat. Jarak dari Pantai Kute ke Monumen Bom Bali di Legian memang tidak jauh. Dan sialnya, gara intip-intip (dari luar) Night Club, malam itu Bani sempat dikira Gigolo dari emak-emak bule.

Pulang Kandang

Bangun di pagi itu sungguh memalukan. Saat membuka jacket yang menutupi wajah, ternyata sudah banyak bule-bule yang joging di sepanjang Pantai Kute. terkesiap bangun, merapikan pakaian, dan segera menjauh dari tepi pantai.

Usai sarapan di warung terdekat, yang ada di pikran kita hanya pulang, kembali ke Bandung. Perjalanan estafet lewat jalur darat hingga ke Bandung tetaplah menyenangkan sebagaimana yang saya kemukakan di sesi awal tulisan ini.

Perjalanan pulang serasa lebih cepat dibandingkan keberangkatan. Tidak  banyak persinggahan di kota-kota hingga menuju stasiun Kiaracondong, Bandung.

Beberapa sekuel singkat catatan Get Lost to Bali hanyalah serpihan yang sulit diingat karena rentang waktu yang lumayan lama, 2011 - 2018. Tak pernah membuat catatan apa pun kecuali foto-foto yang tetap tersimpan di facebook.


Pastinya sudah banyak sekali Backpacker yang menulis seputar perjalanan di Bali, dan tentunya lebih detail serta menampilkan konten menarik. Sementara tulisan ini hanyalah coretan usang yang hanya akan menjadi dokumentasi keabadian. Bahwa suatu waktu, Kita pernah melakukan perjalanan konyol dan tanpa rencana, The Nekad Traveler***

0 Response to "Backpacking ke Bali 4: Serpihan Puzzle Get Lost to Bali"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel